Dari Iseng Perbaiki Golok, Wawan Kini Jadi Perajin di Cilegon

CILEGON, GEGER BANTEN.COM — Berawal dari keisengan memperbaiki golok milik saudara, Wawan Suwandi (43), warga Lingkungan Rawa Gondang, Kelurahan/Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, justru menemukan jalan hidup sebagai perajin golok tradisional.
Selama sekitar lima tahun, ayah tiga anak tersebut menekuni profesi sebagai pandai besi. Ia membuat golok tradisional sekaligus berbagai perkakas dengan mengandalkan keterampilan yang dipelajari secara otodidak.
Perjalanan Wawan bermula ketika ia memperbaiki golok milik saudaranya yang hendak digunakan untuk berburu di kawasan Ciparay, Kecamatan Cinangka. Hasil pekerjaannya kemudian ia unggah ke media sosial Facebook.
Tak disangka, unggahan tersebut mendapat respons positif dari warganet. Sejumlah orang kemudian mendorong Wawan untuk mengembangkan keterampilannya, termasuk membuat tempat restorasi dan gagang golok.
“Abis itu saya bikin lagi, ada masukan buat saya bikin tempat restorasi golok dan gagang golok. Dari situ saya belajar di YouTube,” ujar Wawan saat ditemui, Jumat (18/7/2025).
Pelajari Teknik Secara Otodidak
Berbekal pengalaman dan ketekunan, Wawan perlahan menguasai teknik pembuatan golok secara mandiri. Ia memadukan proses penempaan tradisional dengan pengerjaan detail pada bilah, gagang, hingga sarung golok.
Untuk menyelesaikan satu bilah golok, Wawan membutuhkan waktu rata-rata sekitar lima hari. Lama pengerjaan bergantung pada ketebalan bilah, jenis material, ukuran, serta tingkat kerumitan ukiran.
Harga golok buatannya pun bervariasi, mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta. Perbedaan harga ditentukan oleh bahan bilah, ukuran, serta tingkat kesulitan pengerjaan gagang dan sarung.
Dalam sebulan, Wawan rata-rata mampu menghasilkan sekitar lima bilah golok atau lebih, tergantung jumlah pesanan yang diterima.
Hasil karyanya diminati sejumlah kolektor barang antik hingga pegiat budaya. Golok buatannya juga digunakan sebagai bagian dari perlengkapan perguruan pencak silat.

Pesanan Datang dari Berbagai Daerah
Karya Wawan tidak hanya dipasarkan di wilayah Cilegon dan Banten. Pesanan juga datang dari sejumlah daerah di Indonesia.
Ia menyebut pernah mengirim hasil karyanya kepada pembeli dari Bali, Padang, hingga Medan.
“Selain di sekitaran Cilegon, yang beli itu ada yang dari Bali, Padang, sama Medan. Pernah mau kirim ke London, Inggris, tapi saya enggak ngerti surat izin ekspor, makanya dibatalin,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kerajinan golok tradisional yang dikerjakan Wawan memiliki pasar hingga di luar daerah. Namun, rencana pengiriman ke luar negeri akhirnya tidak dilakukan karena persoalan dokumen dan perizinan ekspor.
Kini, Wawan terus mengembangkan keterampilannya dari lingkungan rumahnya di Citangkil. Dari sebuah keisengan memperbaiki golok, ia berhasil menekuni kerajinan tradisional yang tidak hanya menjadi mata pencaharian, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan keterampilan pandai besi dan budaya golok tradisional di Banten.(Roni Alfa)